Senin, 15 Agustus 2016

Apakah Sesungguhnya Gaya Minimalis Itu?

Pernahkah kita mendengar istilah minimalis? Istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, bagi yang senang menata rumah terutama bagian interior ataupun bagi yang sedang membangun rumah, mungkin tak asing dengan istilah tersebut. Nah, apakah sesungguhnya gaya minimalis itu?

Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong

Bila senang menonton serial kera sakti, kita pasti sering mendengar Biksu Tong mengucapkan pepatah isi adalah kosong, kosong adalah isi. Nah, pepatah ini sesungguhnya menjadi salah satu landasan gaya minimalis.

Lalu, apa kaitan pepatah itu dengan gaya minimalis? Gaya minimalis berakar dari ajaran Budha. Ajaran ini sangat mempengaruhi budaya Jepang pada zaman dahulu kala. Karenanya, dalam rumah tradisional Jepang, kita dapat melihat begitu banyak ruang kosong. Ruang kosong dianggap sebagai hal yang hidup dan bermakna. Sebaliknya, ruang yang terisi barang dianggap sebagai hal yang kurang hidup dan bermakna.

Dengan demikian, bila ingin menjadikan rumah terlihat minimalis, kita mesti mengosongkan ruang sebanyak mungkin. Hal ini akan terasa sulit bila kita cenderung menganut gaya hidup materialistik. Sebabnya, orang yang menganut gaya hidup materialistik senang membeli banyak barang. Termasuk barang-barang yang sebenarnya kurang begitu dibutuhkan. Semakin banyak barang yang tersimpan di dalam rumah, tentunya akan membutuhkan ruang untuk menyimpannya. Terlebih, bila barang-barang yang dibeli berukuran besar. Singkatnya, gaya rumah minimalis sulit terwujud tanpa adanya kesederhanaan hidup.


Gambar 1. Interior Rumah Tradisional Jepang

Less Is More, Semakin Sederhana Semakin Bermakna

Seperti sudah disebutkan, ajaran Budha sangat mempengaruhi budaya Jepang. Karenanya, rumah tradisional Jepang dapat menjadi contoh rumah yang seutuhnya menerapkan gaya minimalis. Terkait kesederhanaan, bila kita mengamati lebih jauh rumah tradisional Jepang, kita dapat menemukan banyak hal yang sederhana. Misalnya, tak adanya kursi, tidur menggunakan alas, tak ada eksterior berukuran luas, bentuk desain pintu geser yang terlihat sederhana, ataupun tak begitu banyak ruang di dalam rumah ini. Inilah sesungguhnya penerapan Less is More, istilah yang diperkenalkan oleh Mies Van Der Rohe, arsitektur berkebangsaan Amerika Jeman

Mengutamakan Aspek Fungsionalitas Bukan Aspek Estetika

Umumnya, penghuni rumah senang memperindah rumah dengan barang-barang yang bernilai seni. Misalnya, memasang lukisan, memasang lampu hias, memperindah interior dengan meletakkan bunga, ataupun memajang patung. Nah, bila kita ingin menerapkan gaya minimalis, sebaiknya tak terlalu banyak meletakkan barang-barang tersebut. Sebabnya, selain mengurangi ruang kosong, barang-barang tersebut pun kurang bernilai guna.

Pemanfaatan Cahaya Matahari Seoptimal Mungkin

Hal unik lainnya dari gaya minimalis yaitu pemanfaatan cahaya matahari seoptimal mungkin. Penerapan hal ini dapat kita lihat pada rumah tradisional Jepang. Pada rumah ini, arsitektur rumah didesain sedemikian rupa agar cahaya matahari memasuki rumah sebesar-besarnya. Nah, bila kita ingin menerapkan gaya minimalis, tentunya kita mesti menata rumah agar cahaya matahari dapat memasuki rumah sebesar-besarnya. Salah cara yang dapat kita lakukan agar cahaya matahari memasuki rumah yaitu memasang jendela yang berukuran besar.


Gambar 2. Rumah Bergaya Minimalis

Demikian, penjelasan singkat mengenai apakah sesungguhnya gaya minimalis. Nah, tertarik menerapkan gaya minimalis yang sesungguhnya pada rumah? Bila tertarik, selamat mencoba...

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber gambar:
1. http://www.workdon.com/wp-content/uploads/2014/11/marvelous-japanese-house-with-minimalist-japanese-interior-design-ideas-wooden-style-home.jpg
2.http://dylanthomasfringe.com/wp-content/uploads/2015/12/minimalist-home-designs-in-the-philippines.jpg


Related Posts :